
KOTA BEKASI – Dinamika politik menjelang Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Golkar Kota Bekasi, semakin riuh diperbincangkan.
Sorotan publik bukan hanya datang dari kader, melainkan juga dari pihak eksternal yang sejatinya tidak memiliki hak suara dalam Musda.
Beberapa pihak yang berada diluar struktur Golkar Kota Bekasi belakangan ini aktif memberi komentar di media terkait konstalasi Musda Golkar. Bahkan seolah-olah terkesan menggiring opini dan menentukan arah kepemimpinan baru.
“Musda adalah forum internal, jadi sebaiknya pihak luar tidak mendikte jalannya proses,” kata salah seorang simpatisan Partai Golkar Kota Bekasi, Ilham, Selasa (29/9/2026).
Di tengah riuhnya komentar eksternal, sosok nama Abdul Manan kembali mencuat. Tokoh senior Golkar Kota Bekasi itu disebut masih memiliki wibawa dan dihormati oleh para kader, meski tidak lagi memegang posisi strategis. Kehadirannya dianggap mampu memberi kesejukan di tengah perdebatan internal.
“Pak Manan tetap kami hormati. Beliau punya rekam jejak panjang di Golkar dan selalu mengingatkan pentingnya soliditas,” katanya.
Sebelumnya, Ketua Pengurus Kecamatan (PK) Golkar Bekasi Timur, Wiwiek Hilwiyah Arief, menilai praktik intervensi politik yang kerap muncul menjelang Musda hanya akan memperburuk citra Partai Golkar di mata publik.
“Musda harusmya menjadi ruang independen bagi kader. Jika ada intervensi, maka legitimasi hasilnya akan dipertanyakan,” ujarnya, Kamis (24/9/2025).
Fenomena ini menunjukkan bahwa Musda kali ini bukan hanya menjadi ajang konsolidasi internal, tetapi juga ujian bagi Golkar Kota Bekasi untuk menjaga kemandirian politik di tengah derasnya opini eksternal.(**)

