
JAKARTA – Ketua Umum Ikatan Wartawan Online (IWO) Jodhi Yudono menilai beredarnya berita ‘hoax’ lantaran ada ketidak percayaan masyarakat terhadap media-media saat ini, yang sudah dimanfaatkan oleh kepentingan politik.
Karenanya, muncullah jurnalisme warga atau citizen jurnalisme.
“Saya menilai, saat ini media tidak lagi independen, sehingga munculah sekarang citizen jurnalisme (jurnalis warga) yang bisa menyampaikan sesuatu,” kata Jodhi dalam diskusi Media di Hall Dewan Pers, Jakarta Senin (26/3).
Karenanya sambung Jodhi, ketika dirinya dipercaya untuk mengemban amanah menjadi Ketua Umum IWO pada September 2017 lalu, dirinya meminta kepada wartawan yang tergabung ke dalam IWO untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang bersikap kritis, dan independen dengan membangun peradaban manusia.
“Karena itu, ini saatnya mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada pers, dengan membangun keberadaban dan dunia kemanusiaan,” ujar dia.
Apalagi wartawan senior yang sudah 25 tahun mengabdi di Grup Kompas itu berharap, di era teknologi saat ini berita-berita hoax dengan cepat menyebar, sehingga jurnalis perlu meningkatkan kualitas pemberitaan guna menangkal berita provokatif, ujaran kebencian dan hoax.
“Hindari politisasi sara, guna membangun keutuhan dan persatuan NKRI. Sebab, saat ini kepentingan politik sangat tinggi di tengah Pilkada serentak saat ini,” ucap dia.
Diskusi Media yang bertema ‘Menakar Upaya konkret Media Online Dalam Melawan Hoax & Politisasi SARA Untuk Persatuan NKRI’ selain Jodhi sebagai narasumber, hadir pula Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Auri Jaya dan Direktur Eksekutif Komunikoten/Institue Media Sosial dan Diplomasi Hariqo Wibawa Satria, serta Kompol Bayu dari Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Mabes Polri.
Sementara Auri menyatakan, peran konkret dan tanggung jawab organisasi media online dalam menangkal berita provokatif, hoax hingga berujung pada politisasi haruslah melibatkan semua pihak, apalagi jika mengandung isu SARA.
Karena itu lanjut dia, untuk mencegah kabar bohong itu, media haruslah teliti mencari narasumber. Sebab, kata dia, ada berita yang sumbernya dari media sosial.
“Ya kalau sumbernya dan faktanya tidak bisa dipertanggungjawabkan, tidak bisa dijadikan narasumber,” ujar dia.
Kalaupun mengutip dari medsos, kata wartawan dari Jawa Pos Grup itu, haruslah jelas identitas akun medsos tersebut, sebab banyak para politikus sekarang menggunakan medsos untuk menyampaikan suaranya.
“Seperti itu bisa dijadikan sebagai narasumber,” tutup wartawan dari Jawa Pos Grup itu.(**)